Yah maaf, udah lama aku gak nulis apa apa
disini, harusnya tiap hari ini terus berlanjut tapi karena ada sedikit kendala
*mood, apa yang ingin disampaikan jadi
hilang semua, tapi hari ini untungnya
enggak, terhitung lebih dari seminggu gak ada coretan yang tertera, aku minta
maaf banget ya, oke biar cepet llangsung
aja deh
TEMA : SURAT TERAKHIR
Surat ? pasti enggak asing dengan kata itu, ya
itu cara kuno sebelum ditemukannya sms atau sosmed dimana mengirim pesan
menjadi sesimple sekarang, dan ada apa
dengan surat ? ya, disini aku menyampaikan banyak hal dengan surat, kalau belum
tau sebenernya aku itu orangnya pemalu banget buat mengungkapkan banyak hal,
apalagi hal hal yang sensitif, jadi terbesut dipikranku untuk menuliskannya
diisebuah surat dan berkesan lebih klasik, aku memilih cara ini karena kurasa
cara ini adalah cara paling keren buat ngungapin sesuatu dibandingkan dengan
menggunakan pesan singkat atau sosmed yang kurang penting.
Tanggapannya ? untung banget semuanya sesuai
dengan yang aku harapin, aku suka dengan balasannya, suratnya berulang kali
membuatku tersenyum sendiri, ini adalah hal paling menyenangkan yang pernah
kurasakan selama ribuan tahun usia hidupku, betapa menyenangkan mendapat surat
dengan isi yang membuat jantung berdebar, rasanya hampir sama seperti pertama
kali memainkan game favorit yang baru saja dirilis, :D
disaat saat seperti ini, aku benar benar melihat sebuah titik terang, sebab hampir semua kebingunganku terjawab dalam surat itu, dan semuanya berjalan mulus, hari demi hari mulai saat itu, dunia kembali memiliki warnanya,
disaat saat seperti ini, aku benar benar melihat sebuah titik terang, sebab hampir semua kebingunganku terjawab dalam surat itu, dan semuanya berjalan mulus, hari demi hari mulai saat itu, dunia kembali memiliki warnanya,
Kurasa cukup dengan pembahasan itu, tapi tetep
gak keluar dari topik hari hari berlalu dengan lancar, kita bisa bicara lagi
seperti biasanya, meskipun aku seringkali diam dan acuh sebenernya aku masih
punya kepedulian, dan lucunya dia selalu salah mengartikannya dengan mengira
kalau aku “ngambek” . yah itu udah jelas salah, sebenernya aku diam itu bukan karena hal hal yang sensi seperti
itu, tapi lebih tepatnya aku kehilangan
mood dan udah gak tau buat ngomong apa, dan kalo tetep ku paksain buat ngomong,
bisa bisa perkataanku jadi ngelantur dan akibatnya juga gak bisa diprediksi.
Jadi aku mungkin sedikit menjelaskan kebenarannya dan syukurlah, dia gak
nganggap itu semua terlalu serius karena aku gak mau bikin dia khawatir, jadi
istilah “ngambek” pun kita jadikan candaan kita dan bikin konsekuensi buat hal
hal yang lumayan lucu, aku cukup senang karena rasanya udah lama kita gak
seakrab gini lag,
Hari berjalan seperti biasa gak ada yang
spesial, semuanya tetep sama, aku masih bisa ngeliat senyumnya, senyum yang
entah fakesmile atau tulus itu, meyenangkan. Ah, dan mungkin ada sedikit
canggung tapi itu gak bertahan lama, karena kehebatanku dalam mengembalikan
situasi memang cukup berguna, kita melakukan hal yang sama seperti biasa,
ngirim pesan singkat (sms) tiap malam, nunggu balesan, terus tepar yang
biasanya terjadi diatas jam 11 malam, sekali lagi itu bener bener
menyenangkan.
Sayangnya itu gak bisa bertahan lama, kenapa
demikian ? kurasa aku yang terlalu bodoh karena terlalu mudah sakit hati, aku
sebenernya gak bermaksud ngungkit hal yang kecil, tapi ini adalah hal yang
lumayan serius, aku gak pernah berharap dia menyimpulkan hal hal yang sensitif
semudah itu, itu sudah jelas menggangguku, aku gak mau ngebuat dia cemas atau
khawatir apalagi ngerasa bersalah, tapi faktanya dia sendiri yang ngerasa hal
itu terjadi pada dirinya, udah pasti aku marah, andai dia gak pernah ngetain
hal itu, mungkin ini gak bakal terjadi, intinya aku kecewa banget setelah mengetahui hal
itu.
Dengan pikiranku yang kosong dan terbawa
emosi, aku menulis surat sepanjang malam dengan keadaan hati yang kacau, dengan
bodohnya aku terus menulis surat itu tanpa memikirkan konsekuensinya, emosiku
benar benar seperti anak kecil, *aku minta maaf. Yang ada dipikiranku saat itu
adalah “kamu serius ?”, “jadi selama ini, aku kamu anggap apa ?, kamu mau
ini semua berakhir ?” sesuatu seperti itu, pikiranku sudah
dikalahkan oleh perasaanku, itu sudah gak
sejernih dulu lagi, bahkan aku hampir berniat membuang surat itu dan
menuliskannya lagi dengan darah ayam.Tapi untungnya aku gak segila
itu, meskipun sekarang aku lupa
apa tujuan pastiya aku ngelakuin hal itu, yang terbesut saat ini adalah supaya
dia ngerasa jijik dengan surat itu, jadi dia gak mungkin ngebales surat
menjijikan karena akan trauma mendapat yang sama lagi, yah seenggaknya itu yang
aku pikirin, emang menjijikkan, jika aku mengingatnya kembali rasanya aku ingin
memukul diriku sendiri hingga tewas.
MENJIJKAN, itu pasti yang dia pikirkan
saat ini, aku menyesal memberikan surat bodoh itu, aku gak mau ini semua
berakhir, tapi sekarang udah terlambat, udah gak mungkin bisa kembali seperti
dulu lagi, seorang lelaki gak mungkin menarik kembali apa yang udah dia
lakukan, meskipun menyeal, nasi sudah menjadi bubur. Aku gak baka berharap yang bukan bukan, karena aku
sadar ini udah selesai :’)
SELESAI
Thx 4 Reading