Kamis, 22 Mei 2014

SEJENAK INTERMEZZO



INTERMEZZO

Aku mampu menahan keanhean ini tetapi ada waktu dan juga batasnya,
Kalau dia membaca ini, yang ingin kukatakan adalah “tolong hentikan kata kata bodoh itu,” memang egois tapi aku tidak bisa mentoleransi kesalahpahaman yang terlalu berlebihan, karena orang yang harusnya bisa lebih mengerti aku adalah orang yang kuberikan perhatian lebih,

Apa masih bingung seperti apa aku memberi perhatian ? itu bukan hal yang ingin kubahas saat ini, intinya aja (to the point) aku terlalu malas untuk meladeni sifat egois yang terlalu banyak memiliki kesalahpahaman didalamnya, bisa saja aku mengabaikan perasaanku tapi ini udah terlalu banyak yang dia berikan terhadapku, bahkan aku hampir merubah pikiranku sekali lagi, bahwa kesendirian adalah hal yang sangat buruk, tapi ternyata aku masih salah

“Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi” itu adalah lirik yang sangat tepat meskipun aku bukan orang yang suka dengan lagu yang berbau cinta didalamnya,
Bicara soal jiwa, aku memang punya sedikit gangguan jiwa, (bukan berarti aku pasien sakit jiwa yang melarikan diri) ini kenyataan yang memang baru aku sadari baru baru ini, contoh kecilnya pada kondisi kejiwaanku aku mudah sekali tersingung, tertekan, sakit hati, dan emosiku tidak terkendali, emosi ini pernah meledak sekali dan akibatnya banyak hal menjadi taruhannya,

Aku merasa kondisi kejiwaanku ini adalah kebodohan yang diberikan pada diriku, aku menutupinya dengan semampuku sekuat tenaga bahkan aku sampai kehilangan jati diriku, karena untuk menutupi kondisi mental dan jiwaku yang bodoh ini, aku merelakan jati diriku hilang dan meniru kepribadian orang lain yang kuanggap baik, jadi sampai sekarang aku hanya berpura pura menjadi pribadi yang bukan lah diriku, karena percayalah, diriku yang sebenarnya bukanlah orang yang menyenangkan.

Aku tidak tega memukul seekor kecoak dengan buku, tapi disuatu sisi terkadang aku merasa memenggal kepala ayam dan manusia itu tidak ada bedanya, *maaf perkataan ini mengandung sedikit unsur sadisme.  itulab contoh kecil dari kondisi kejiwaanku yang kacau, aku sendiri juga tidak menginginkan kondisi bodoh ini, aku hanya ingin menjadi layaknya orang orang normal pada umumnya.